Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Garuda Indonesia Bertahan Setelah Rugi Triliunan

 


Garuda Indonesia - Garuda Indonesia bertahan setelah rugi triliunan per bulan. 

Kondisi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk tidak semakin membaik.  Memiliki beban keuangan yang bertambah banyak hampir Rp 1 triliun setiap bulan dan total kerugian sudah mencapai US$ 4,5 Miliar atau Rp 70 triliun. 

Tidak hanya itu, arus kas Garuda berada di zona merah dan memiliki ekuitas (nilai jual perusahaan) minus Rp 41 triliun dan ancaman likuidasi di dalam perusahaan. 

Mungkinkah Garuda Indonesia bisa di selamatkan? Dan Kenapa bisa memiliki hutang sebanyak itu? 

Krisis terjadi akibat dari pandemi yang berdampak pada pendapatan. Sedangkan Garuda Indonesia  masih harus membayar harga penyewaan pesawat (lessor) yang tinggi. Garuda memiliki 36 lessor, yang sebagian di antaranya terlibat korupsi dengan manajemen lama. 

Selain masalah dengan lessor, menurut Menteri BUMN Erick Thohir, kurang tepatnya model bisnis yang Garuda lakukan juga memperburuk situasi. 

Komisaris Garuda Indonesia  Peter Gontha mengatakan kritisnya kondisi keuangan tidak adanya penghematan biaya operasional, tidak adanya informasi mengenai cara dan narasi negosiasi dengan lessor, sehingga tidak ada perubahan penerbangan/rute yang merugi. 

Menteri Erick Thohir mendorong supaya model bisnis Garuda harus segera deganti. Seperti, leboh fokus ke penerbangan domestik, renegosiasi armada hingga optimalisasi pasar kargo. 

Krisis yang terjadi saat ini bukanlah yang pertama kali terjadi pada Garuda Indonesia. Pada Agustus tahun 1998, Garuda memiliki utang sekitar Rp 4,6 triliun pada kurs dollar Rp 10.000.

Pada penyajian ulang laporan tahun 2018, Garuda malah mencatat kerugian sebesar US$ 175 juta (Rp 2,49 trilliun). Pada tahun 2019 berhasil membukukan laba sebesar US$ 122,4 juta,  namun menurun drastis lagi pada tahun 2020.

Kerugian yang dialami Garuda Indonesia berdasarkan laporan keuangan pada kuartal III/2020, pendapatan Garuda Indonesia  turun 67,18% menjadi US$917,29 juta (Rp 13,07 tlilliun) dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. 

Bahkan, laba bersih perusahaan minus hingga 97% menjadi US$ 1,07 Miliar (Rp 15,33 triliun)  dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. 

Untuk pemegang saham maskapai Garuda Indonesia  ialah :

• 60,54% dipegang oleh pemerintah

• 28,27% dimiliki oleh PT Trans Airways (Chairul Tanjung) 

• Sedangkan sisanya  11,19% kepemilikan saham dimiliki oleh Masyarakat. 


Chairul Tanjung telah membeli saham GIAA ketika harga masih berada di level Rp 625 per lembar. Namun harga saham GIAA terus merosot selama 9 tahun terakhir. 

Sejak awal 2021, anjlok hingga 40,3% dan saat ini harga saham berada di Rp 228 per lembar.  Dengan kepemilikan yang dimiliki oleh CT,  nilai kerugian yang terakumulasi sebanyak Rp 11,2 triliun. 

Demi menyiasati beban keuangan, Pemerintah akan mengambil langkah diantaranya :

• Pemerintah akan menyokong GIAA melalui pemberian pinjaman atau suntikan modal

• Menggunakan hukum perlindungan kebangkrutan untuk merestrukturisasi

• Pemerintah  akan restrukturisasi dan mendirikan perusahaan maskapai nasional baru

• Pemerintah akan melikuidasi dan sektor swasta bisa mengisi kekosongan. 


Menurutmu apakah Garuda Indonesia bisa selamat dari badai krisis ini? 


Sekian, terima kasih sudah berkunjung ke alhuda14.net

Posting Komentar untuk "Garuda Indonesia Bertahan Setelah Rugi Triliunan"