Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Biografi Buya Hamka, Sang Kyai yang Multitalenta di Indonesia

alhuda14 - Biografi Buya Hamka menjadi salah satu pembahasan yang paling banyak dicari. Hal itu tentu saja bukan tanpa sebab karena Buya Hamka memang salah satu tokoh multitalenta Indonesia. Jika biasanya seorang tokoh hanya ahli di satu bidang saja. Namun, lain halnya dengan Buya Hamka yang justru terkenal ahli di sejumlah bidang.

Pemilik nama asli Abdul Malik Karim Amrullah ini merupakan salah satu ulama Indonesia. Tidak hanya itu, ia juga seorang sastrawan besar dan tokoh politikus. Oleh karena itu, sangat wajar bila banyak yang ingin mengetahui Biografi Buya Hamka karena mengaku penasaran dengan perjalanan hidup sang multitalenta ini. Nah, apakah Anda salah satunya? Jika iya, maka simak sampai akhir artikel berikut ini, ya.

Biografi Buya Hamka

Masa Kecil Hamka

Tokoh yang bergelar Datuk Indomo ini lahir pada 17 Februari 1908 di Sungai Batang, Tanjung Raya, Agam, Sumatra Barat. Ayahnya bernama Abdul Karim Amrullah yang merupakan pelopor gerakan pembaharuan di ranah Minang. Sementara ibunya merupakan perempuan berdarah bangsawan yang bernama Siti Safiyah. 

Berdasarkan Biografi Buya Hamka  diterangkan bahwa Hamka kecil merupakan anak yang nakal. Ia pernah kabur dari rumah. Bahkan, Anda pasti tidak akan menyangka bahwa tokoh dengan sejumlah keahlian ini dulunya merupakan orang yang sangat malas belajar. Namun, ia memiliki alasan di balik sifat malasnya tersebut. Ia ternyata tidak senang belajar karena metode yang digunakan oleh sang guru memang sangat monoton dan membosankan.

Meski demikian, sejak kecil Hamka memang sudah mulai terlihat tertarik dengan dunia sastra yang kelak menjadi salah satu keahliannya. Hamka kecil sangat menyukai kisah rakyat hingga mendengar pantun. Dalam Biografi Buya Hamka juga diceritakan bahwa ia sangat senang mengunjungi sejumlah perguran pencak silat. Hal itu pulalah yang mungkin membuat sifat berani dalam dirinya tumbuh sehingga suatu waktu pernah terlibat pertengkaran dengan preman.

Pada hakikatnya, Hamka telah mendapat pengetahuan agama sejak masih dini. Hal itu disebabkan karena orang tuanya merupakan seorang pendakwah. Oleh karena itu, bukan hal yang mengejutkan bila ia sudah mulai memahami nilai-nilai agama. Apalagi, menginjak usia 4 tahun ia memang sudah mulai dibimbing untuk belajar salat dan membaca al-Qur’an. 

Pendidikan

Dijelaskan dalam Biografi Buya Hamka bahwa saat berusia 7 tahun ia dimasukkan ke Sekolah Desa. Namun, setelah sekolah agama Diniyah School dibuka pada tahun 1916, maka ia turut belajar di sana. Menariknya, berkat kecintaannya terhadap bahasa, ia akhirnya dapat menguasai bahasa Arab dalam waktu singkat. 

Perjalanannya menempuh pendidikan di Sekolah Desa berhenti setelah tahun 1918 sang ayah memindahkannya ke Sekolah Thawalib. Dikarenakan sekolah tersebut memang hanya berfokus pada pendidikan agama, maka selama di sana Hamka belajar kaidah nahwu dan ilmu araf. Bahkan, ia juga mulai menghafal isi kitab-kitab klasik. Namun, semangat belajar itu surut ketika menginjak usia 12 tahun ketika kedua orang tuanya bercerai. Ia sering bolos dan lebih memilih bepergian jauh.

Beruntunglah, kebiasaan tersebut segera diketahui oleh sang ayah yang langsung menegurnya dengan keras. Ia pun akhirnya kembali menjalani aktivitas belajar seperti semula. Bahkan, ketika Hamka mengetahui gurunya Zainuddin sedang membuka Bibliotek, yaitu perpustakaan sekaligus persewaan buku. Maka, ia menghabiskan banyak waktunya dengan membaca, bahkan ia pun juga menyalin tulisan yang dibacanya itu berdasarkan pemahamannya sendiri. 

Diceritakan dalam Biografi Buya Hamka bahwa ketertarikan untuk mendalami al-Qur’an mendorongnya untuk merantau ke Jawa. Akhirnya, pada tahun 1924 ia pergi ke Yogyakarta untuk berguru pada Ki Bagus dan mempelajari tafsir al-Qur’an secara mendalam. 

Di kota itu pulalah ia belajar mengenai ilmu sosial politik. Bahkan, ia bergabung dalam Sarekat Islam dan berguru pada HOS Tjokroaminoto dan Suryo Pranoto. Pendidikan Buya Hamka tidak sampai di situ saja. Perjalanan mencari ilmu itu berlanjut di kota Pekalongan dan ia belajar pada Sultan Mansur yang merupakan suami dari kakak tirinya.

Perjalanan sebagai Ulama

Menjadi guru agama di Padang Panjang pada 1927 merupakan awal perjalanan karirnya di dunia Islam. Selang satu tahun, ia mendirikan cabang Muhammadiyah di kota tersebut. Karirnya semakin melejit, tahun 1932 ia dikirim ke Makassar dan diberi amanah oleh pimpinan Muhammadiyah untuk menjadi muballigh di sana. Di kota itulah ia juga melakukan berbagai penelitian tentang tokoh sejarawan lokal dan berhasil mengabadikannya dalam majalah bernama al-mahdi. 

Pada Biografi Buya Hamka dijelaskan bahwa ia kembali ke Padang Panjang pada 1947 dan langsung diberi kepercayaan untuk memimpin Kulliyatul Muballighin. Tugasnya semakin besar setelah berdirinya pemerintah orde baru, saat itu ia mulai berfokus menjalankan perannya sebagai seorang ulama. Tanggung jawab yang dipikul semakin berat ketika tahun 1975 ia dipilih sebagai ketua MUI pertama. 

Perjalanan sebagai Politikus

Sejarah Buya Hamka dalam dunia politik dimulai sejak tahun 1925, saat itu ia sudah bergabung dalam partai politik Sarekat Islam. Bahkan pada tahun 1955, melalui partai Masyumi ia berhasil masuk Konstituante. Hamka merupakan salah satu tokoh yang menyarankan adanya tambahan kalimat pada sila pertama Pancasila sesuai dengan Piagam Jakarta. Ketika Konstituante dibubarkan pada 1959 bisa dikatakan perjalanan politiknya berakhir.

Bahkan, dalam Biografi Buya Hamka dijelaskan bahwa Presiden Soekarno pernah memenjarakan Hamka pada tahun 1964 hingga 1966. Hal itu karena ia disangka pro terhadap Malaysia. Sempat diangkat sebagai anggota dalam Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Majelis Perjalanan Haji Indonesia, dan Lembaga Kebudayaan Nasional Indonesia setelah bebas. 

Namun, perjalanan politik Hamka kembali diuji ketika ia berbeda pendapat dengan Menteri Agama terkait perayaan natal bersama. Hal itu pada akhirnya menjadi penyebab Buya Hamka mengundurkan diri sebagai ketua MUI. 

Perjalanan sebagai Sastrawan

Buya Hamka sudah mulai aktif menjadi wartawan di beberapa surat kabar sejak tahun 1920-an. Misalnya saja, Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Tidak hanya itu, beberapa kali ia juga pernah menjadi seorang editor untuk sejumlah majalah, seperti majalah Kemajuan Masyarakat. Kemudian, majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, dan Gema Islam.

Bahkan, tidak tanggung-tanggung, Buya Hamka juga merupakan seorang penulis dengan ratusan karya. Tercatat dalam Biografi Buya Hamka bahwa ia telah menulis sejumlah karya ilmiah Islam. Salah satunya karya Tafsir al-Azhar bahkan menjadi karya yang fenomenal. Hamka juga menulis buku dalam berbagai bentuk dan beragam tema. Bahkan, karyanya bergenre sastra fiksi seperti novel pun juga ada banyak sekali. 

Anda mungkin tahu novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah? Siapa sangka, novel yang juga sudah diangkat ke layar lebar itu merupakan hasil karya Buya Hamka. Wah, benar-benar multitalenta bukan tokoh yang satu ini? Sayangnya, pada 24 Juli 1981 Hamka dipanggil sang pencipta. Meski demikian, tokoh multitalenta ini tentu akan tetap abadi melalui karya-karyanya.

Demikian pembahasan seputar Biografi Buya Hamka. Semoga Anda bisa meneladani semangat belajar Buya Hamka dalam memperluas ilmu pengetahuan dan akhirnya bisa ahli dalam sejumlah bidang, ya.

Posting Komentar untuk "Biografi Buya Hamka, Sang Kyai yang Multitalenta di Indonesia"