Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Sejarah Sunan Pandanaran Atau Sunan Bayat

alhuda14.net - Sejarah Sunan Pandanaran atau Sunan Bayat - Ada cukup banyak nama Sunan di seluruh daerah Indonesia memiliki kisah sejarah masing-masing. Hingga akhirnya ada beberapa poin penting bisa kita lihat dari latar belakang hidup seorang sunan sebelum menjadi panutan ataupun mendapat gelar Sunan. Salah satu Sunan terkenal sekaligus memiliki kisah menarik adalah Sunan Pandanaran atau sering disebut Sunan Tembayat.

Tidak sedikit nama Sunan dikenal karena kisah hidupnya di masa lalu ataupun pada saat sudah menjadi Sunan. Karena itu Dari Pandanaran ini menjadi salah satu Sunan istimewa karena memiliki kisah cerita menarik sekaligus menjadi salah satu Sunan dengan beberapa kepandaian yang dimiliki.

Sejarah Sunan Pandanaran
Sejarah Sunan Pandanaran

Sejarah Sunan Pandanaran

Dikenal Sebagai Bupati Kedua Semarang

Sebelum dikenal sebagai nama Sunan Pandanaran, tentu saja ada kisah sejarah yang harus Anda pahami. Nama Ki Ageng Pandanaran memiliki nama asli Pangeran Mangkubumi yang kemudian mendapatkan gelar Sunan Bayat atau dikenal dengan nama lain Sunan Tembayat. Menariknya, sejarah Sunan Pandanaran ini memiliki sekelumit kisah mengenai jabatan seorang Bupati Kedua Semarang.

Menjadi pertanyaan banyak kalangan dimana seorang kepala pemerintahan bisa menjadi seorang Sunan. Kemudian dari beberapa fakta yang berhasil dirangkum ada beberapa kesaktian yang dimiliki Sunan Pandanaran ini. Sehingga sepak terjang dari Ki Ageng Pandanaran dalam menjalankan fungsi sebagai kepala pemerintahan bisa dibarengi dengan kegiatan menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Tengah.

Awal Cerita Dari Sunan Pandanaran

Selain dikenal sebagai Bupati kedua Semarang, tentu saja ada kisah sebelumnya tepatnya di abad ke 16M. Seorang Bupati dengan nama Pangeran Mangkubumi sekaligus mendapat mandat sebagai kepala pemerintahan di daerah Semarang. Pangeran Mangkubumi tersebut menjadi putra dari Bupati Semarang pertama bernama Harya Madya Pandan. Sekaligus menjadi awal mula sejarah Sunan Pandanaran.

Dari sinilah setelah Harya Madya Pandan meninggal, secara otomatis Pangeran Mangkubumi menjadi pengganti tahta Bupati Semarang. Untuk itulah, gelar Ki Ageng Pandanaran sekaligus diberikan tepat pada tanggal 2 Mei 1547M. Dari pemberian gelar tersebut sebagai hasil perundingan antara Sunan Kalijaga dan Sultan Hadiwijaya atau dikenal sebagai penasehat Istana Demak pada waktu itu.

Pada awal mendapat mandat sebagai penerus ayahnya, tentu sepak terjang dari Ki Ageng Pandanaran tersebut mampu mengembang berbagai macam tugas berat dari sang ayah. Bahkan dalam beberapa kegiatan pemerintahan, Sunan Pandanaran ini mampu mengimbangi dengan memberikan pengajian secara rutin sekaligus beberapa kegiatan ceramah, hingga terdapat sejarah Sunan Pandanaran yang menceritakan bahwa pengajian rutin dan Khotbah Jumat kerap disampaikan oleh Sunan Pandanaran ini.

Tidak hanya itu, perkembangan dari Sunan Pandanaran dalam menyebarkan agama Islam semakin kuat. Sehingga ada pengembangan pondok pesantren dan pembangunan tempat ibadah. Karena itu, tugas-tugas pemerintahan yang dibebankan pada Sunan Pandanaran ini sudah bisa dikatakan sukses dan mampu memperlihatkan ajaran Islam ke banyak tempat.

Dilansir dari beberapa sumber sejarah Sunan Pandanaran masyarakat yang dipimpin langsung Ki Ageng Pandanaran di awal pemerintahannya tergolong makmur dan damai. Pencapaian tersebut tidak lepas dari pengaruh ajaran agama dari Sunan Pandanaran sekaligus adanya pola hidup sosial masyarakat yang dikatakan memberi konsep lebih tentram dan beri rasa damai.

Perubahan Sifat dan Karakter Sunan Pandanaran

Salah satu bagian menarik dari kisah hidup Sunan Pandanaran ini adalah terjadinya perubahan sifat yang bisa dikatakan berbeda dan terbalik dari aslinya. Pada awalnya kita bisa melihat kehidupan masyarakat lebih nyaman dan tentram. Akan tetapi sebagai seorang manusia, Ki Ageng Pandanaran mengalami perubahan sifat bahkan dianggap lupa diri.

Keberhasilan yang dicapai dalam pemerintahan Sunan Pandanaran justru membuat dirinya berubah menjadi lupa diri. Beberapa sifat yang tertuang dalam sejarah Sunan Pandanaran meliputi suka mengumpulkan banyak harga dengan tujuan kemewahan, sombong, congkak, dan kikir.

Dari efek perubahan sifat Sunan Pandanaran inilah ada banyak tugas pemerintahan yang tidak dijalankan dengan baik. Bahkan terkesan lalai dan akhirnya dari pihak masyarakat pun memberikan kritik keras. Dari perubahan hidup menjadi lebih mewah inilah penurunan pengembangan ajaran agama Islam di Jawa Tengah mengalami penurunan.

Secara khusus dari sejarah Sunan Pandanaran memperlihatkan beberapa daerah kekuasaan Ki Ageng Pandanaran juga mengalami perubahan karena tidak adanya perawatan dari tempat ibadah, pondok pesantren. Hingga akhirnya rakyat mengalami beberapa perubahan perilaku karena tidak adanya kegiatan ceramah oleh Ki Ageng Pandanaran.

Mendapat Peringatan dari Sunan Kalijaga

Sebagai seorang sesepuh ataupun pamong dari Ki Ageng Pandanaran, Sunan Kalijaga merasa prihatin dengan perubahan sifat Sunan Pandanaran tersebut. Untuk mengatasi hal buruk di masyarakat, Sunan Kalijaga membuat siasat untuk memberi nasehat kepada Ki Ageng Pandanaran.

Dari beberapa sumber sejarah Sunan Pandanaran, ada tindakan dari Sunan Kalijaga yang mana menyamar menjadi seorang warga dengan menawarkan rumputnya ke Pandanaran. Dengan mengenakan pakaian compang-camping dan menyerupai seorang tukang rumput, Sunan Kalijaga memberi beberapa nasehat kepada Ki Ageng Pandanaran agar tidak termakan oleh kemewahan dunia.

Namun alih-alih mematuhi dan menerima nasehat dari Sunan Kalijaga yang menyamar menjadi seorang tukang rumput tersebut. Ki Ageng Pandanaran justru tidak terima bahwa dirinya diceramahi oleh seorang tukan rumput. Pandanaran berbicara ke Sunan Kalijaga dengan nama menggertak dan akhirnya Ki Ageng Pandanaran mengusir Sunan Kalijaga.

Berbedapa kisah sejarah Sunan Pandanaran memperlihatkan kesaktian dari Sunan Kalijaga yang merasa tidak terima ceramahnya dihiraukan bahkan mendapat ejekan dari Ki Ageng Pandanaran. Langsung saja Sunan Kalijaga mengeluarkan kekuatannya dengan mencangkul sebidang tanah kemudian dari bongkahan tanah tersebut ternyata berubah menjadi emas.

Ki Ageng Pandanaran sontak merasa kaget dan kagum dengan kesaktian si tukan rumput tersebut. Bahkan Ki Ageng Pandanaran menganggap tukan rumput tersebut bukan orang sembarangan. Hingga akhirnya si tukang rumput tersebut menghilangkan penyamarannya dan terlihatlah sosok Sunan Kalijaga.

Melihat Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pandanaran langsung bersujud dan meminta maaf untuk bertobat atas semua kesalahan yang dia perbuat. Akhirnya dengan beberapa pertimbangan, Sunan Kalijaga menerima Ki Ageng Pandanaran sebagai muridnya kembali. Dari sini sejarah Sunan Pandanaran menceritakan jabatan sebagai Bupati Semarang diberikan langsung ke adik Ki Ageng Pandanaran.

Setelah itu Ki Ageng Pandanaran meninggalkan Semarang bersama istrinya ke Gunung Jabalkat. Disitulah ada banyak keunikan dari kisah sejarah seorang Sunan Pandanaran yang memang sempat mengalami perubahan sifat seperti gila harta dan jabatan. Sampai sekarang Ki Ageng Pandanaran dikenal sebagai murid Sunan Kalijaga yang cerdas dan rajin.

Dari sinilah ada beberapa proses penyebaran agama Islam yang dilakukan Sunan Pandanaran yang sampai sekarang masih fokus di daerah Jawa Tengah. Untuk itu dalam sejarah Sunan Pandanaran kita bisa melihat bahwa ada perubahan karakter dan sifat manusia yang cenderung menginginkan harta dan jabatan. Karena itu, hakikat dari seorang pemimpin haruslah memenuhi persyaratan dan sebisa mungkin merangkul masyarakatnya.

 

Posting Komentar untuk "Sejarah Sunan Pandanaran Atau Sunan Bayat"