Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

7 Peninggalan Sunan Gunung Jati, Apa Saja Itu?

alhuda14 - Peninggalan Sunan Gunung Jati sebagai salah satu Walisongo memang tersebar di seluruh Indonesia, khususnya daerah Jawa Barat. Berbagai metode penyebaran agama yang digunakan pun sangat beragam. Hal ini menjadi ciri khas tersendiri dari setiap Walisongo. Misalnya saja, Sunan Kalijaga yang menggunakan metode gamelan dan wayang dalam penyebaran agama Islam. Sunan Gunung Jati pun memiliki metodenya tersendiri.

Sunan Gunung Jati juga memiliki latar belakang yang menarik. Mulai dari berbagai peninggalan yang hingga kini bisa Anda Temui, metode penyebaran agama Islam, dan juga peristiwa penaklukan Jagabaya. Di bawah ini ulasan singkat seputar Sunan Gunung Jati yang harus Anda ketahui!

Peninggalan Sunan Gunung Jati

Siapa Sunan Gunung Jati?

Sebelum mengulas beberapa peninggalan Sunan Gunung Jati yang tersebar di seluruh Indonesia, Anda perlu mengetahui beberapa peristiwa menarik sebagai latar belakang Sunan Gunung Jati. Salah satunya ialah kelahiran Sunan Gunung Jati di Mekkah. Sayangnya, pada saat Sunan Gunung Jati masih anak-anak atau balita ayah Beliau meninggal dunia. 

Namun, ternyata kejadian ini membuat Sunan Gunung Jati menjadi anak yang sangat kuat. Beberapa tahun kemudian Sunan Gunung Jati memutuskan untuk memperdalam ilmu keagamaan. Tujuan mulia ini didukung dengan keinginannya untuk pergi ke Pulau Jawa. Menurut sejarah peninggalan Walisongo, pada saat itu  Indonesia sebagai lalu lintas padat perdagangan. 

Sunan Gunung Jati pun masuk bersama-sama dengan pedagang yang berasal dari Arab maupun Gujarat. Lebih lanjut,Sunan Gunung Jati masuk ke Indonesia melalui jalur laut dan kota yang menjadi persinggahannya ialah Cirebon, sekitar tahun 1400 M. 

Sebelum menetap dan menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat, Sunan Gunung Jati sempat berkunjung ke beberapa wilayah lain di Indonesia. Mulai dari Aceh, Jawa Timur, dan beberapa daerah lainnya. Di daerah tersebut Anda bisa menemukan beberapa peninggalan Walisongo lainnya yang berasal dari Sunan Gunung Jati maupun beberapa Sunan lainnya. 

Keinginan Beliau dalam menyebarkan agama Islam memang sangat tinggi. Awalnya masyarakat setempat (Cirebon), enggan untuk bergaul atau berkomunikasi dengan Sunan Gunung Jati. Namun, Sunan Gunung Jati tidak menyerah begitu saja. Beliau terus berusaha untuk berbaur dan mengakrabkan diri dengan masyarakat setempat. 

Berkat kemampuan Sunan Gunung Jati dalam berkomunikasi dan menyebarkan pengaruh baik kepada masyarakat setempat, maka sekitar akhir tahun 1400 M Sunan Gunung Jati yang menjadi penyebar agama Islam pertama di Jawa Barat akhirnya diangkat menjadi penguasa langsung oleh Pangeran Cakrabuwana. 

Peninggalan Sunan Gunung Jati

Diangkatnya Sunan Gunung Jati menjadi salah satu orang yang cukup berkuasa di daerah Sunda, meninggalkan jejak sejarah. Mulai dari beberapa senjata, pusaka, naskah, bahkan bangunan yang dibuat oleh Sunan Gunung Jati dan menjadi peninggalan bersejarah yang berkesan di benak masyarakat tanah Sunda. Berikut beberapa peninggalannya. 

Senjata Pusaka

Peninggalan Sunan Gunung Jati yang pertama ialah berbagai senjata pusaka. Beberapa senjata pusaka tersebut berbentuk keris atau pedang yang dimiliki pribadi oleh Sunan Gunung Jati. Bahkan beberapa sumber sempat menyatakan bahwa senjata tersebut dipercaya memiliki kekuatan magis. 

Hal ini dikarenakan salah satu pedang milik Sunan Gunung Jati yang hanya dikeluarkan pada saat menyambut hari kelahiran Muhammad SAW. Selain itu, ada pula keris yang digunakan sebagai jimat pribadi. 

Jamasan Pusaka

Selanjutnya, ialah Jamasan Pusaka milik Sunan Gunung Jati. Jamasan ini bukan berbentuk benda atau naskah seperti peninggalan pada umumnya. Melainkan Jamasan ialah sebuah upacara adat yang menjadi rutinitas Sunan Gunung Jati. Upacara ini menjadi peninggalan Beliau karena hingga kini masyarakat setempat masih rutin melakukan upacara Jamasan Pusaka. 

Peninggalan Sunan Gunung Jati ini berupa sebuah aktivitas mencuci berbagai senjata pusaka milik Sunan Gunung Jati. Upacara ini juga dilakukan di Keraton Kasepuhan Cirebon sebagai tempat tinggal Sunan Gunung Jati dahulu. 

Rangkaian upacara Jamasan Pusaka diawali dengan mengeluarkan berbagai senjata dan pusaka adat. Barang-barang tersebut dimandikan menggunakan air kelapa dan digosok secara perlahan menggunakan jeruk nipis. Setelahnya, kembali dibersihkan menggunakan air bersih dan diberi air anti karat. 

Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Setelah beberapa benda pusaka sampai tradisi yang menjadi adat turun-temurun, berbeda dengan beberapa peninggalan Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, atau beberapa Sunan lainnya, Sunan Gunung Jati membuat sebuah bangunan Masjid yang memiliki peristiwa menarik di balik pembangunannya.
Bangunan ini terletak di Cirebon, tepatnya pada area Keraton Kasepuhan. 

Menurut beberapa sumber, Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini didirikan sekitar tahun 1500 M dengan arsitektur yang berasal dari Kerajaan Majapahit. Didirikannya masjid ini juga menjadi salah satu bukti cinta antara Sunan Gunung Jati dengan istrinya. 

Sang istri yakni Nyi Mas Pakungwati yang merupakan istri pertama dari Sunan Gunung Jati sekaligus putri Pangeran Cakrabhuwana. Oleh karena itu, masjid ini diberi nama Sang Cipta Rasa dan dijadikan sebagai salah satu peninggalan Sunan Gunung Jati. 

Gamelan

Sudah menjadi hal yang lumrah bagi Walisongo dalam menggunakan musik sebagai metode menyebarkan agama Islam. Peninggalan Sunan Gunung Jati kali ini berbentuk satu set gamelan yang biasa Beliau gunakan ketika melakukan dakwah. 

Satu set gamelan ini terdiri dari gong, bonang, sampai saron. Peninggalan sejarah berupa gamelan ini kini berada di Museum Pusaka Keraton yang berada di Cirebon. Gamelan milik Sunan Gunung Jati ini memiliki nama yaitu Gamelan Sekaten. 

Naskah

Sunan Gunung Jati juga gemar menuliskan beberapa naskah penting. Salah satunya adalah naskah yang terletak di Museum Keraton Cirebon. Naskah ini tidak hanya 1 atau 2 saja, melainkan ada puluhan naskah yang ditulis langsung oleh Sunan Gunung Jati. 

Peninggalan Sunan Gunung Jati berupa naskah ini bertujuan sebagai kajian di masa mendatang termasuk metode penyebaran agama Islam yang sampai kini bisa diteliti oleh berbagai cendekiawan di Indonesia dan dunia. 

Botol Kristal kuno

Sunan Gunung Jati juga memiliki sebuah botol Kristal kuno yang diperkirakan sudah berumur sekitar 4-5 abad. Selain itu, Sunan Gunung Jati juga memiliki beberapa koleksi seperti keramik atau piring yang berusia hampir 7-8 abad. 

Peninggalan Sunan Gunung Jati ini menjadi daya tarik sendiri bagi beberapa peneliti. Hal ini dikarenakan walaupun beberapa barang keramik tersebut telah berusia ratusan tahun, tetapi kemurnian dan keindahan dari tiap keramik tersebut masih terlihat hingga kini. 

Wayang Kulit

Seperti peninggalan Sunan Kudus yang menunjukkan cara penyebaran Islam menggunakan wayang dan pertunjukkan musik, Sunan Gunung Jati juga menggunakan wayang kulit sebagai salah satu metodenya.
Salah satu peninggalan  ini tersimpan dengan baik di dalam Museum Keraton Cirebon. Hingga saat ini wayang kulit milik Sunan Gunung Jati masih dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat dengan melakukan pagelaran wayang kulit selama semalam suntuk pada bulan Agustus 2020. 

Makam Sunan Gunung Jati

Terakhir, peninggalan ini berbentuk makam Beliau yang terletak di Cirebon. Makam ini telah menjadi tempat ziarah yang wajib didatangi ketika melakukan ziarah Walisongo. 

Nah, di atas ialah beberapa peninggalan Sunan Gunung Jati yang patut Anda ketahui. Sebagai salah satu tokoh besar yang berjasa dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, Sunan Gunung Jati memang patut dinobatkan dan dihormati oleh sebagai pahlawan yang sangat berjasa.

Posting Komentar untuk "7 Peninggalan Sunan Gunung Jati, Apa Saja Itu?"