Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenal Sejarah Sunan Ampel Surabaya

alhuda14.net - Mengenal sejarah Sunan Ampel Surabaya sama dengan mengenal sejarah perkembangan Islam di Indonesia, khususnya di wilayah timur Pulau Jawa. Sunan Ampel adalah salah satu wali Allah yang masuk ke dalam sembilan orang pilihan, yang dikenal dengan sebutan walisongo.

Sebagai seorang wali, Sunan Ampel dikenal juga sebagai sosok yang sangat karismatik dan bijaksana. Tak heran, sampai sekarang makamnya pun masih sellau ramai dikunjungi para peziarah dari seluruh Indonesia. Apa dan bagaimana Sejarah dari Sunan Ampel Surabaya ini? Berikut ulasannya.

sejarah Sunan Ampel Surabaya

Silsilah Sunan Ampel  

Berdasarkan silsilah sejarah Sunan Ampel Surabaya, ada beberapa versi yang bagi sebagian orang akan menjadi sangat membingungkan. Entah versi mana yang benar, namun tak ada salahnya menelisik keduanya sebagai pelajaran dan ilmu yang wajib untuk diketahui. Berikut silsilah Sunan Ampel dari beberapa versi berbeda.

Silsilah Sunan Ampel Versi Pertama

Menurut salah satu sumber sejarah Sunan Ampel Surabaya adalah anak dari Syekh Ibrahim As-Samarqandy yang makamnya terdapat di Tuban. Syekh Ibrahim As-Samarqandy ini adalah putra dari Syekh Jumadil Kubro. Dalam sumber lain disebutkan bahwa Raden Rahmat memiliki saudara yaitu Raden Santri.

Raden Santri dan Raden Rahmat adalah anak Haji Bong Tak Keng keturunan suku Hui, Yunan. Mereka juga merupakan keturunan campuran dari bangsa Han, Tionghoa dengan Samarkand atau Asmarakandi.

Raden Rahmat, Raden Burereh dan Raden Santri yang merupakan cucu Raja Champa ini pergi ke Majapahit untuk mengunjungi bibi mereka, Dwarawati puteri Raja Champa, permaisuri Raja Brawijaya.

Saat itu Raja Champa telah menjadi seorang muallaf. Dikarenakan kerajaan Champa hancur oleh kerajaan Veitnam, maka Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh tidak dapat  kembali lagi ke negerinya.

Silsilah Sunan Ampel Versi Kedua

Versi ini lebih banyak ditulis, salah satunya dalam buku Sunan Ampel (Raden Rahmad) karya Yoyok Rahayu Basuki. Dalam buku ini disebutkan bahwa sejarah Sunan Ampel Surabaya adalah anak dari Maulana Malik Ibrahim atau Malik Maghribi. Maulana Malik Ibrahim sendiri adalah menantu dari Sultan Champa dan ipar dari Dwarawati. Kemudian  Maulana Malik Ibrahim dikenal oleh banyak orang dengan sebutan Sunan Gresik.

Sunan Ampel juga merupakan salah satu keponakan dari Raja Majapahit. Ketika itu, Majapahit dipimpin oleh Raja Brawijaya, berdasarkan sejarah ia datang menemui kakak sulung ibunya atau bibinya yaitu Dewi Sasmitraputri yang juga permaisuri Raja Brawijaya atau Prabu Kertawijaya.

Selain keterangan sejarah di atas, ada juga keterangan sejarah yang berasaldari Surat Darmo Gandhul. Surat tersebut menyatakan bahwa Sunan Ampel memang keponakan dari Putri Champa, permaisuri dari Prabu Brawijaya.

Silsilah Sunan Ampel Versi Ketiga

Berdasarkan Hikayat Banjar dan Kotawaringin atau lebih tepatnya Hikayat Banjar resensi I, dinyatakan bahwa nama asli Sunan Ampel adalah Raja Bungsu. Namun, dalam riwayat yang lain menyatakan bahwa nama asli dari Sunan Ampel adalah Raden Mohammad Ali Rahmatullah (Raden Rahmat) dan ia adalah anak Sultan Pasai.

Dia datang ke Majapahit karena menyusul atau menengok kakaknya yang diambil menjadi istri oleh Raja Mapajahit. Dalam sumber ini, Raja Majapahit yang memimpin saat itu bernama Dipati Hangrok atau Raja Brawijaya keenam.

Raja Brawijaya keenam ini sebelumnya telah memerintahkan menterinya Gagak Baning untuk melamar Putri Pasai dengan membawa 10 buah perahu ke kerajaan Pasai. Namun, sebagai kerajaan Islam, Sultan Pasai sedikit ragu jika putrinya menjadi istri Raja Majapahit. Namun, karena takut binasa dan khawatir kerajaannya hancur, akhirnya ia harus merelakan putri kesayangannya.

Setelah bertemu dengan Raja Bungsu, Putri Pasai melarang Raja Bungsu kembali ke Pasai. Ia ingin Raja bungsu terus menemaninya di Majapahit. Sebagai saudara ipar dari Raja Majapahit, Raja Bungsu kemudian meminta izin untuk menempati tanah kosong yang ada di wilayah pesisir kepada Raja Majapahit sebagai tempat tinggal. Raja pun mengizinkannya, wilayah itu bernama Ampelgading.

Perjuangan Dakwah Sunan Ampel

Dalam sejarah Sunan Ampel Surabaya, dakwah yang dilakukannya, dimulai saat ia tiba di kerajaan Majapahit. Saat itu kerajaan Majapahit sedang dalam kondisi yang buruk. Banyak adipati dan petinggi kerajaan yang justru melupakan tugas mereka dan lebih suka hidup mewah serta berpesta pora. Keadaan inilah yang membuat Raja Majapahit kala itu menjadi resah dan sedih.

Saat Sunan Ampel tiba di kerajaan Majapahit untuk menemui bibinya Dewi Sasmitraputri, Raja Majapahit yaitu Prabu Brawijaya menerima Sunan Ampel dengan baik. Raja malah sangat terkesan dengan sikap Sunan yang baik, bijaksana dan cerdas dalam beragama. Raja pun memberi kesempatan padanya untuk menyebarkan agama Islam.

Namun, sebelum ia menyebarkan agama Islam ke masyarakat, Raja menceritakan kondisi kerajaan yang buruk pada Sunan Ampel. Sunan pun akhirnya membantu Raja untuk menyadarkan dan mendidik para petinggi dan adipati kerajaan tersebut, agar mereka kembali ke jalan yang benar.

Dengan kesabaran dan kewibawaannya, akhirnya dakwah yang dilakukan oleh Sunan Ampel pada para petinggi kerajaan dan adipati berhasil. Setelah keberhasilannya tersebut, Sunan Ampel pun melanjutkan niatnya untuk kembali berdakwah di masyarakat. Sunan Ampel pun pergi berjalan dari desa ke desa.

Berdasarkan sejarah Sunan Ampel Surabaya, di tengah perjalanan ia menemukan tempat kosong yang dikenal dengan Ampeldenta.  Di sana ia kemudian membantu pusat ibadah berupa mesjid, lalu membangun pesantren, di tempat itu pula ia diberi kekuasaan oleh Raja Majapahit.

Setelah dakwahnya berjalan dan ia memiliki banyak murid, salah satu murid terbaiknya Raden Fatah, ia angkat sebagai Sultan Demak. Dalam sejarah Sunan Ampel Surabaya pengangkatan ini terjadi pada tahun 1475. Dalam beberapa sumber seperti Oud Surabaya, History of Java disebutkan bahwa Sunan Ampel pernah membawa 3000 keluarga ke Jawa.

Dari jumlah yang banyak ini, ia lalu membuat perkampungan dan membuat insfrastruktur. Konsep ini jelas berbeda dengan yang ada di daerah lain kala itu. Sunan Ampel bahkan menata Mesjid Agung, alun-alun kota dan kabupaten dan kantor-kantor pemerintahan berada saling berdekatan satu sama lain. Konsep dalam sejarah Sunan Ampel Surabaya ini masih diikuti oleh pemerintah Indonesia hingga sekarang.

Meninggalnya Sunan Ampel

Berdasarkan sejarah Sunan Ampel Surabaya meninggal pada tahun 1481 di Demak, yang kemudian dimakamkan di sebelah Barat Mesjid Ampel Surabaya. Hingga saat ini makamnya masih banyak dikunjungi oleh para peziarah yang datang dari seluruh wilayah Indonesia.

Biasanya makan Sunan Ampel banyak dikunjungi pada saat malam jum’at, malam jum’at Legi, ketika bulan Ramadhan, hari Raya Idul Fitri. Namun, di hari-hari biasa ada juga peziarah yang datang ke makam Sunan Ampel.

Demikian sejarah Sunan Ampel Surabaya yang diramu dari berbagai sumber. Tak banyak memang referensi yang menceritakan tentang Sunan Ampel. Namun, semoga ini semua bisa menjadi tambahan ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat untuk kita semua.

Posting Komentar untuk "Mengenal Sejarah Sunan Ampel Surabaya"