Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kisah Seorang Sunan Gunung Jati di Cirebon

alhuda14.net - Kisah Seorang Sunan Gunung Jati di Cirebon Sunan Gunung Jati dilahirkan tahun 1448 Masehi. Ayah dari Sunan Gunung Jati merupakan seorang musafir dan mubaligh. Syekh Maulana Akbar merupakan ayah dari sunan Gunung Jati,

Shekh Maulana Akbar juga merupakan Putra  dari ulama besar di Hadramaut. Yang silsilahnya sampai hingga kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan melalui cucunya Imam Husain. Sedangkan Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi beliau merupakan ibu dari sunan Gunung Jati yang merupakan puteri dari Prabu Siliwangi. simak juga tentang Sejarah Makam Gusdur

kisah seorang Sunan Gunung Jati

Masa Remaja Sunan Gunung Jati

Kisah seorang Sunan Gunung Jati Ibu beliau merupakan adik dari Kian Santang atau biasa disebut dengan pangeran walangsungsang yang memiliki gelar Cakrabuana atau cakrabumi. Yang berguru kepada Shekh Datuk Kahfi beliau merupakan salah seorang mubaligh asal Baghdad yang memiliki nama asli IdHafi Mahdi bin Ahmad.

ketika Sunan Gunung remaja beliau berguru kepada Shekh Tajudin. Lalu, beliau pergi ke Baghdad untuk belajar ilmu tasawuf. ketika mencapai usia 20 tahun Sunan Gunung Jati pergi menuju ke Mekah untuk kembali menuntut ilmu. Setelah selesai menuntut ilmu yaitu tepatnya pada tahun 1470 beliau kembali berangkat ke tanah Jawa untuk mengamalkan ilmunya yang telah Ia pelajari sebelumnya.

Menurut kisah seorang Sunan Gunung Jati ketika sampai di tanah Jawa Sunan Gunung Jati bersama dengan ibunya beliau disambut dengan gembira. Beliau disambut dengan keluarga dan juga oleh pangeran Cakrabuana. Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati beserta dengan ibunya Syarifah mudaim datang menuju ke negeri Caruban larang Jawa Barat ketika tahun 1475.

Namun sesudah itu beliau mampir terlebih dahulu menuju ke Gujarat dan juga Pasai untuk kembali menambah ilmu dan juga pengalamannya. Meminta izin untuk tinggal di Pasumbangan Gunung Jati. Mereka di sana membangun pesantren untuk meneruskan usaha dari Shekh Datuk Latif yaitu gurunya Pangeran Cakrabuana.

Nah menurut kisah seorang Sunan Gunung Jati, beliau dinikahkan dengan Puteri Cakrabuana. Puteri dari Cakrabuana yang bernama Nyi pakungwati yang Kemudian beliau diangkat menjadi pangeran Cakrabuana. Pada tahun 1479 beliau menjadi pangeran dakwah Islam yang di lakukannya dengan melalui diplomasi kepada kerajaan-kerajaan lainnya.

Lalu ketika tahun 1479, usia dari pangeran Cakrabuana telah memasuki masa lanjut. Lalu Beliau menyerahkan kekuasaan Negeri Tjaruban kepada Syarif  Hidayatullah yang memiliki gelar susuhunan yaitu orang yang sangat di junjung tinggi. Pada tahun pertama pemerintahan dari Sunan Gunung Jati, beliau berkunjung ke Pajajaran untuk mengunjungi kakeknya.

Dalam kisah seorang Sunan Gunung Jati beliau telah mengajak sang prabu untuk masuk Islam, namun beliau tidak mau. Meskipun Prabu Siliwangi tidak mau bergabung dalam agama islam. Namun, Prabu Siliwangi tidak menghentikan dan juga menghalangi cucunya untuk menyebarkan Islam di wilayah Pajajaran. Lalu, Syarif Hidayatullah melanjutkan perjalanannya.

Dan lagi-lagi kedatangan dari Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah beliau disambut baik oleh Adipati Banten. Dan bukan hanya itu saja Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah beliau dijodohkan dengan Putri Adipati Banten. Dan Putri dari Adipati Banten yang bernama Nyai Kawunganten. Dari perkawinan tersebut Sunan Gunung Jati dikaruniai seorang Putra yang bernama Pangeran sebakingking.

Lalu, kisah seorang Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah memasuki usia ke 89 tahun. beliau mundur dari jabatan dan untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan tersebut lalu diserahkan kepada Pangeran Pasarean. Ketika pada tahun 1568 Masehi Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati menghembus kan nafas terakhirnya saat usia ke-120 tahun. Lalu Beliau dimakamkan di daerah Gunung Sembung tepatnya di Gunung Jati sekitar 15 kilometer.

Cara Sunan Gunung Jati menyebarkan Islam Kepada seluruh masyarakat

Dalam menyebarkan agama Islam beliau tidak bekerja secara sendirian. Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati sering mengikuti musyawarah bersama dengan anggota Wali lainnya. yang di mana Musyawarah tersebut Na na diadakan di Masjid Demak. Dan juga disebutkan bahwa Beliau juga membantu dalam berdirinya pembangunan masjid Demak.

Menurut kisah seorang Sunan Gunung Jati, pergaulan Sunan Gunung Jati dengan Sultan Demak dan juga kepada para wali lainnya Hal ini dapat mendirikan kesultanan pakungwati di Cirebon. Ia juga  memberitahukan bahwa dirinya sebagai raja yang pertama dengan gelar yaitu Sultan.

Pada saat itu Syarif Hidayatullah yang sering dikenal dengan Sunan Gunung Jati dapat disebut sebagai era emas atau golden Age Bagi perkembangan Islam di Cirebon. Sebelum Sunan Gunung Jati wilayah Cirebon sebelumnya dipimpin oleh pangeran Cakrabuana. Cakrabuana beliau merupakan Rintisan dari pemerintahan yang berdasarkan asas Islam.

Lalu, kisah seorang Sunan Gunung Jati sangat berpengaruh dari penguasa Cirebon masih saja berlindung di balik kebesaran nama Syarif Hidayatullah. Dengan berdirinya Kesultanan tersebut lalu, tidak ada lagi masyarakat yang mengirim upeti kepada kerajaan pajajaran. Akan tetapi tindakan tersebut dianggap sebagai pembangkangan.

Raja Pajajaran tetap tidak peduli kepada atau siapa yang berdiri di balik Kesultanan Cirebon tersebut. Dan raja mengirim pasukan atau prajurit Pilihannya yang dipimpin oleh Ki Jagabaya.

Tugas utama dari prajurit tersebut yaitu untuk menangkap Sunan Gunung Jati yang telah dianggap lancang. Namun usaha tersebut tidaklah berhasil nyatanya Ki Jagabaya dan para anak buahnya malah tidak kembali ke Pajajaran. Akan tetapi, menurut kisah seorang Sunan Gunung Jati, mereka masuk Islam dan menjadi pengikut dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Dengan gabungnya pasukan dari perwira pilihan maka semakin maju lah dan juga besar pengaruh Kesultanan pakungwati. Sebagai salah satu anggota dari Wali Songo Sunan Gunung Jati juga menerapkan berbagai metode dalam proses penyebaran agama Islam. Beberapa metode dakwahnya menggunakan metode “maw’izhatul hasanah wa mujadalal billati hiya ahsan”.

Menurut kisah seorang Sunan Gunung Jati beliau juga terdapat salah satu metode. Yaitu Al Hikmah yang merupakan sistem dan cara berdakwahnya para wali. Metode tersebut merupakan jalan kebijaksanaan yang telah diselenggarakan secara populer. Cara tersebut mereka gunakan dalam menghadapi masyarakat desa atau Awam.

Dengan menggunakan tata cara tersebut yang bijaksana masyarakat awam mereka hadapi dengan cara masal atau bersama-sama. Terkadang terlihat sensasional dan unik sehingga menarik perhatian masyarakat umum.Terdapat juga metode tadarruj yang digunakan sebagai proses pengklasifikasian yang telah disesuaikan dengan tahap-tahap pendidikan umat.

Agar ajaran Islam yang disebarkan dapat dimengerti oleh berbagai Umar dan akhirnya dijalankan kepada masyarakat secara merata. Metode seperti ini juga diperhatikan setiap jenjang setiap tingkat dan juga Bakat. Dan menurut kisah seorang Sunan Gunung Jati juga tradisi tersebut masih tetap dipraktekkan di lingkungan pesantren. simak juga tentang Sejarah Sunan Geseng

Sunan Gunung Jati juga Selain sebagai pendakwah Beliau juga berperan sebagai politikus, pemimpin, dan juga beliau berperan sebagai budayawan. Nah, itulah kisah seorang Sunan Gunung Jati semoga bermanfaat. Terimakasih.

 

Posting Komentar untuk "Kisah Seorang Sunan Gunung Jati di Cirebon"