Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Jejak Sejarah Sunan Walisongo

alhuda14.net - Sejarah Sunan Walisongo merupakan cikal bakal penyebaran agama Islam di tanah Jawa, baik itu Jawa tengah, Jawa barat maupun Jawa timur. Namun terlepas dari itu semua Walisongo adalah manusia biasa yang diberikan kepercayaan dan kemampuan dalam menyebarkan ajran Islam. Sejarah ini sangat penting, karena Walisongo adalah wali yang berjumlah sembilan orang dan tokoh penting dalam perkembangan agama Islam di Indonesia.

 
Sejarah Sunan Walisongo

Tokoh-tokoh Sejarah Sunan Walisongo

Seperti sudah dijelaskan di atas, tokoh Walisongo berjumlah sembilan orang, yang mempunyai tugas untuk menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa. Zaman Walisongo ini dimulai ketika kerajaan Hindu-Buddha berakhir, kemudian berganti dengan kebudayaan Islam, adapun tokoh-tokohnya akan diulas lebih lanjut.

9 (SEMBILAN) TOKOH SEJARAH SUNAN WALISONGO

Setelah kerajaan Hindu-Buddha berganti dengan kebudayaan Islam, maka 9 tokoh Sejarah Sunan Walisongo pun mulai bergerak untuk menyebarkan ajaran Islam,  Walisongo tersebut adalah:

Sunan Gresik

Beliau disebut-sebut sebagai wali pertama yang menyebarkan ajaran Islam dan kebudayaannya di tanah Jawa. Sebelum beliau menjadi wali sudah ada orang Jawa yang memeluk Islam, karena saat itu perkembangan Islam sangat pesat di negeri Gujarat, Arab dan Turki. Jadi Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh pedagang timut tengah yang sudah terlebih dulu menganut agama Islam.

Pada waktu itu pemeluk agama Islam masih sebatas pada penduduk sekitar pesisir Jawa, yang kemudian penyebarannya melalui perdagangan dan pernikahan. Kemudian datang Sunan Gresik yang punya  nama asli Maulana Malik Ibrahim, beliau merupakan tokoh, yang berasal dari negeri Champa (negeri cermin). Beliau mendarat di pelabuhan Gresik, Sunan Gresik menyebarkan agama Islam dan sebagai sejarah sunan Walisongo, yang menyebarkan Islam dengan pendekatan perdagangan.

Dalam penyebaran agama Islam, Sunan Gresik mendirikan masjid di daerah Pasucinan, Manyar Gresik, sebagai tempat beliau berdakwah. Beliau berdakwah dengan cara mengajarkan masyakarat sekitar  bercocok tanam dan melakukan ramah tamah, sehingga merangsang masyarakat tertarik masuk Islam. Sunan Gresik wafat pada tahun 1914, setelah beliau mendirikan pondok pesantren di Leran, Manyar Gresik

Sunan Ampel

Sunan Ampel adalah Walisongo kedua, yang punya nama asli Raden Rahmat, beliau adalah putra dari Walisongo pertama, yaitu Sunan Gresik. Sunan Ampel yang berdakwah di wilayah Surabaya, lahir di Champa pada tahun 1401 dan merupakan keturunan ke 19 dari Nabi Muhammad SAW. Beliau berdakwah dengan salah satu ajarannya yang unik dan terkenal hingga saat ini, yaitu Moh Limo atau yang sekarang lebih dikenal dengan 5M.

Moh Limo atau 5M adalah Moh main (tidak berjudi), Moh ngombe (tidak meminum minuman keras), Moh maling (tidak mencuri), Moh madat (tidak menggunakan narkoba) dan Moh madon (tidak berzina). Sebelum wafat pada tahun 1481 di kota Demak, tokoh sejarah Sunan Walisongo ini sempat mendirikan masjid agung Demak, yang kini sangat terkenal dan menjadi salah satu tujuan wisata. Ketika beliau wafat, jenazahnya dimakamkan di Surabaya, tepatnya di samping masjid Ampel, Surabaya.

Sunan Bonang

Tokoh sejarah Sunan Walisongo selanjutnya adalah Maulana Makhdum Ibrahim, atau lebih dikenal dengan nama Sunan Bonang. Beliau merupakan keturunan ke 23 Nabi Muhammad SAW dan mempelajari ilmu agama Islam sampai ke Malaka, tepatnya di Samudera Pasai. Kemudian pulang ke Tuban untuk memulai dakwahnya dan mendirikan pondok pesantren di Tuban.

Pada metode dakwahnya Sunan Bonang bisa dibilang paling unik, karena beliau menggunakan seni dan musik, seperti gamelan. Beliau juga disebut sebagai pelopor kesenian tembang jawa, seperti mijil, mocopat, pangkur dan sebagainya. Sunan Bonang wafat pada tahun 1525, dan jenazahnya dimakamkan di Tuban, Jawa timur.

Sunan Drajat

Sejarah Sunan Walisongo yang menyebarkan ajaran Islam berikutnya adalah Sunan Drajat atau Raden Qosim, dengan julukan Raden Syaifudin. Beliau merupakan putra dari Sunan Ampel, saudara dari Sunan Bonang dan belajar agama dari Sunan Muria. Setelah selesai menimba ilmu agama, beliau pulang ke Gresik, tepatnya di pesisir Lamongan dan mulai mensyiarkan agama Islam.

Beliau berdakwah dengan metode kegiatan sosial, yaitu mengenalkan kedermawanan dengan cara menyantuni anak yatim dan orang yang sedang sakit. Beliau juga menekankan dakwah-dakwahnya dengan berorientasi pada kegiatan sosial dan gotong royong. Sunan Drajat meninggal tahun 1522 dan dimakamkan di desa Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa timur.

Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga atau Raden Mas Syahid adalah putra bupati Tuban dan masih keturunan Ranggalawe dari kerajaan Majapahit. Sejak belia Sunan Kalijaga sudah mempelajari ilmu agama Islam, meskipun beliau dari golongan ningrat. Namun Raden Mas Syahid sangat sedih ketika melihat keadaan masyarakat Tuban, beliau lalu pergi berkelana menjadi perampok.

Hasil dari rampokannya beliau bagikan pada rakyat Tuban yang fakir miskin, sehingga beliau dijuluki perampok yang ditakuti para saudagar kaya (Lokajaya). Pada saat itu Sunan Bonang menasehati Raden Mas Syahid untuk berhenti merampok, meski beliau merampok untuk kebaikan. Namun apapun alasannya merampok adalah kegiatan yang dilarang agama, sehingga Sunan Bonang pun menyuruh Raden Mas Syahid untuk bertapa.

Setelah cukup lama berlalu Sunan Bonang lupa, kalau beliau menyuruh bertapa Raden Mas Syahid di tepi sungai untuk mensucikan dirinya. Maka saat itu Sunan Bonang menjemputnya dan mengajaknya untuk memperdalam ilmu agamanya di pesantrennya. Karena saking lamanya Raden Mas Syahid bertapa di tepi sungai, kemudian dikenal dengan nama Sunan Kalijaga, yang berarti penjaga kali.

Ketika beliau selesai memperdalam ilmu agamanya, Sunan Kalijaga pun mulai mensyiarkan agama Islam, beliau mengikuti jejak gurunya dalam berdakwah. Media dakwah yang digunakan sama seperti Sunan Bonang, yaitu dengan berkesenian, contohnya wayang kulit, gamelan, seni tari dan kesusastraan. Sunan Kalijaga meninggal di Kadilangu, Demak, pada abad 15 Masehi.

Sunan Kudus

Jejak sejarah Sunan Walisongo berikutnya adalah Sunan Kudus, yang dikenal dengan nama aslinya Jafar Sodiq. Beliau dikenal sebagai ulama ahli di bidang hadist, tauhid, fiqih dan logika, ketika berdakwah dengan menciptakan cerita keagamaan. Beliau meninggal dunia pada 1550 di Kudus dan dimakamkan di sekitar menara Kudus.

Sunan Muria

Putra dari Sunan Kalijaga ini berdakwah mengikuti jejak ayahnya, menyusuri daerah terpencil untuk menyebarkan ajaran Islam dan kebudayaannya. Metode dakwahnya yaitu dengan kesusastraan jawa dan  merangkul rakyat kecil, seperti pedagang, nelayan dan petani untuk masuk Islam. Beliau wafat dan dimakamkan di gunung Muria, Kudus, pada abad 16 Masehi, sebagai sejarah Sunan Walisongo.

Sunan Gunung Jati

Sebagai cucu prabu Siliwangi, raja Pajajaran, Sunan Gunung Jati sangat dihormati di kerajaan Demak dan Pajang.  Bahkan Sunan Gunung Jati juga dijuluki Pandita, sehingga beliau sukses menyebarkan ajaran Islam dan diterima masyarakat luas di Jawa barat. Beliau juga mendirikan kesultanan dan pondok pesantren di Gunung Jati, Cirebon.

Sebelum beliau wafat pada tahu 1570, di desa Astana, Gunung Jati, Cirebon, Sunan Gunung Jati menyerang Sunda kelapa dengan pimpinannya Fatahillah (panglima perang) dari kesultanan Demak membantu Sunan paling muda masa itu. Sejarah Sunan Walisongo sangat menginspirasi masyakarat sekitar.

Itulah sedikit tentang sejarah Sunan Walisongo dan tokoh-tokohnya yang sangat terkenal hingga sekarang. Sehingga dengan demikian diharapkan dapat memberikan pembelajaran dalam sejarah penyebaran kebudayaan Islam. Karena seperti diketahui bersama Walisongo adalah ulama Indonesia yang berjasa dalam penyebaran dan pengembangan kebudayaan Islam.

Posting Komentar untuk "Jejak Sejarah Sunan Walisongo"